Mendengarkan isi artikel

Lawatan Hayam Wuruk ke Wilayah Probolinggo: Jejak Perjalanan Raja Majapahit pada 1359 M

Probolinggo dalam catatan perjalanan Hayam Wuruk

Wilayah yang sekarang dikenal sebagai Probolinggo Raya memiliki jejak penting dalam perjalanan Hayam Wuruk, Raja Majapahit, pada abad ke-14. Sumber utama untuk menelusuri perjalanan tersebut adalah Kakawin Nฤgarakrฤ•tฤgama (Deล›awarแน‡ana) karya Mpu Prapaรฑca.

Lawatan Hayam Wuruk Ke Wilayah Probolinggo

Lawatan Hayam Wuruk Ke Wilayah Probolinggo

Pada 1359 M atau 1281 Saka, Hayam Wuruk melakukan perjalanan panjang menuju wilayah timur Jawa, terutama dalam rangkaian perjalanan menuju Lamajang (Lumajang) dan wilayah Tapal Kuda. Rute tersebut melewati wilayah yang sekarang termasuk Probolinggo sebelum dan sesudah perjalanan menuju daerah timur. (Sigarda Indonesia)

Daerah Probolinggo yang Dikaitkan dengan Lawatan Hayam Wuruk

Berdasarkan kajian dan sumber lokal yang merujuk pada Nฤgarakrฤ•tฤgama, terdapat sejumlah nama wilayah yang dikaitkan dengan perjalanan Hayam Wuruk di kawasan Probolinggo.

1. Banger โ€” Kota Probolinggo

Banger merupakan salah satu nama paling penting dalam sejarah Probolinggo.

Sumber Pemerintah Kota Probolinggo menyebut bahwa pada masa Hayam Wuruk, kawasan yang sekarang menjadi Kota Probolinggo dikenal dengan nama Banger, yang dikaitkan dengan nama sungai yang mengalir di wilayah tersebut. Banger pada awalnya disebut sebagai sebuah pedukuhan kecil yang kemudian berkembang menjadi pakuwon di bawah pengaruh Majapahit. (BPBD Probolinggo Kota)

Dalam sejumlah historiografi lokal, perjalanan Hayam Wuruk pada 1359 juga dikaitkan dengan persinggahan di Banger, Baremi, dan Borang. Lokasi modern yang sering dihubungkan dengan ketiganya adalah kawasan Kota Probolinggo, termasuk Sukabumi, Mangunharjo, dan Wiroborang. (Budaya Indonesia)

2. Baremi โ€” Kawasan Kota Probolinggo

Baremi merupakan nama yang dikaitkan dengan perjalanan Hayam Wuruk dalam historiografi lokal.

Dalam pemetaan modern yang digunakan beberapa sumber lokal, Baremi dikaitkan dengan kawasan Kelurahan Sukabumi, Kota Probolinggo. (Budaya Indonesia)

Karena pemetaan nama tempat abad ke-14 ke wilayah administratif modern tidak selalu pasti, hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai identifikasi historis yang digunakan dalam sumber lokal, bukan koordinat arkeologis yang sudah pasti.

3. Borang โ€” Wiroborang

Nama Borang juga muncul dalam pembahasan perjalanan Hayam Wuruk.

Dalam identifikasi lokal, Borang dikaitkan dengan Wiroborang, salah satu wilayah di Kota Probolinggo. Historiografi lokal menjelaskan bahwa nama Wiroborang berkaitan dengan perkembangan nama Borang dalam sejarah kawasan tersebut. (Scribd)

Dengan demikian, Banger, Baremi, dan Borang menjadi tiga nama yang penting ketika membahas hubungan perjalanan Hayam Wuruk dengan kawasan Kota Probolinggo.


4. Pajarakan

Selain kawasan Kota Probolinggo, Pajarakan mempunyai dasar pembahasan yang cukup kuat dalam kajian perjalanan Hayam Wuruk.

Kajian mengenai Nฤgarakrฤ•tฤgama menyebut Pajarakan sebagai salah satu tempat dalam rangkaian perjalanan 1359. Kajian tersebut juga menghubungkan kawasan Pajarakan dengan tinggalan arkeologis di Ketompen, meskipun identifikasi bangunan kuno di lapangan dengan bangunan yang disebut dalam teks harus diperlakukan sebagai persoalan penelitian, bukan kepastian mutlak. (Sigarda Indonesia)

Pajarakan menjadi menarik karena perjalanan Hayam Wuruk bukan sekadar melewati wilayah tersebut. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa rombongan kerajaan menginap dalam rangkaian perjalanan di kawasan Pajarakan dan Sagara. (Sigarda Indonesia)


5. Gending

Gending juga tercantum dalam daftar nama wilayah yang dikaitkan dengan perjalanan Hayam Wuruk di kawasan Probolinggo.

Museum Kota Probolinggo mencatat Gendhing bersama sejumlah nama wilayah lain yang disebut dalam pembahasan perjalanan Hayam Wuruk berdasarkan Nฤgarakrฤ•tฤgama. (Museum Kota Probolinggo)

Dalam kajian rute, setelah perjalanan melalui kawasan pegunungan dan Pajarakan, rombongan kemudian bergerak ke arah utara dan melewati Gendhing. (Sigarda Indonesia)


6. Sagara โ€” kawasan pegunungan Probolinggo

Sagara memiliki posisi menarik dalam narasi perjalanan karena dikaitkan dengan kawasan hutan dan pegunungan.

Kajian perjalanan Hayam Wuruk menyebut bahwa setelah melewati kawasan Pajarakan dan Kali Pekalen, rombongan menuju kawasan Sagara, yang dikaitkan dengan wilayah Gunung Hyang. Di sana terdapat tempat pertapaan atau mandala kadewaguruan. (Sigarda Indonesia)

Sagara menunjukkan bahwa perjalanan Hayam Wuruk tidak hanya mengikuti jalur permukiman pesisir, tetapi juga memasuki kawasan pedalaman dan pegunungan.


7. Tongas

Tongas juga muncul dalam pembahasan perjalanan Hayam Wuruk di wilayah Probolinggo.

Museum Kota Probolinggo mencatat bahwa ketika rombongan raja mengunjungi sebuah komunitas keagamaan atau mandhala di daerah Tongas, mereka melakukan kegiatan keagamaan dan menerima persembahan dari komunitas Buddhis serta sejumlah desa pegunungan, termasuk Lumbang, Pancur, dan Trenggilis. (Museum Kota Probolinggo)

Hal ini memberikan gambaran bahwa wilayah Probolinggo pada masa tersebut memiliki jaringan permukiman dan komunitas keagamaan yang cukup beragam.


8. Buluh, Gedhe, Arya, Bermi, Keboncandi, Sajabung, dan Pabayeman

Selain nama-nama yang lebih mudah dikenali saat ini, Museum Kota Probolinggo mencatat sejumlah nama lain yang dikaitkan dengan wilayah Probolinggo dalam Nฤgarakrฤ•tฤgama, yaitu:

Banger, Sagara, Pajarakan, Gendhing, Buluh, Gedhe, Arya, Bermi (Baremi), Keboncandi, Sajabung, dan Pabayeman. (Museum Kota Probolinggo)

Nama-nama tersebut penting untuk penelitian sejarah karena nama tempat abad ke-14 tidak selalu dapat dipetakan secara pasti ke desa atau kecamatan modern.

Oleh sebab itu, daftar tersebut sebaiknya dipandang sebagai peta historis nama wilayah, sementara pemetaan geografis modern memerlukan penelitian filologi, sejarah, arkeologi, dan geografi secara bersamaan.


Jalur Besar Lawatan di Probolinggo

Jika disederhanakan berdasarkan kajian yang tersedia, perjalanan Hayam Wuruk dapat digambarkan secara konseptual sebagai:

Majapahit
โ†“
Pasuruan
โ†“
Probolinggo / Banger
โ†“
Baremi โ€“ Borang
โ†“
Pajarakan
โ†“
Kali Pekalen
โ†“
Sagara / kawasan Gunung Hyang
โ†“
Gending
โ†“
Banger dan kawasan barat Probolinggo
โ†“
melanjutkan perjalanan menuju wilayah timur Jawa

Namun, urutan tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai rekonstruksi koordinat modern yang pasti, karena identifikasi beberapa nama tempat dalam Nฤgarakrฤ•tฤgama masih menjadi objek penelitian. Kajian modern memang menunjukkan adanya perdebatan mengenai lokasi sejumlah tempat kuno. (Sigarda Indonesia)


Mengapa Probolinggo Penting dalam Lawatan Hayam Wuruk?

Perjalanan Hayam Wuruk memberikan gambaran bahwa kawasan Probolinggo pada abad ke-14 bukan sekadar wilayah yang dilewati dalam perjalanan menuju Lumajang.

Di dalam berbagai kajian, muncul nama:

Banger โ€” pusat sejarah Kota Probolinggo
Pajarakan โ€” kawasan persinggahan penting
Sagara โ€” kawasan pertapaan/mandala
Gending โ€” bagian dari rute perjalanan
Tongas โ€” kawasan komunitas keagamaan
Bermi/Baremi, Sajabung, Keboncandi, Buluh, Gedhe, Arya, Pabayeman โ€” nama-nama wilayah yang tercatat dalam pembahasan geografis Probolinggo masa Majapahit. (Museum Kota Probolinggo)

Jejak tersebut memperlihatkan bahwa kawasan yang kini disebut Probolinggo Raya mempunyai jaringan tempat, masyarakat, keagamaan, dan pemerintahan yang telah berkembang pada masa Majapahit.


Catatan Penting: Fakta dan Interpretasi

Untuk menjaga kualitas artikel sejarah evergreen, perlu dibedakan tiga tingkat informasi:

Pertama โ€” sumber tekstual:
Nฤgarakrฤ•tฤgama mencatat nama-nama tempat dan perjalanan Hayam Wuruk.

Kedua โ€” identifikasi historis:
Peneliti mencoba mencocokkan nama kuno dengan wilayah modern.

Ketiga โ€” interpretasi lokal:
Sejumlah wilayah modern kemudian dikaitkan dengan lokasi kuno berdasarkan tradisi sejarah, penelitian lokal, kondisi geografis, maupun tinggalan arkeologis.

Ketiganya tidak selalu mempunyai tingkat kepastian yang sama.

Pendekatan seperti ini penting agar sejarah Probolinggo tidak hanya menjadi cerita populer, tetapi berkembang menjadi pengetahuan lokal yang dapat ditelusuri sumbernya dan diperbarui apabila penelitian baru menghasilkan temuan berbeda.

Kesimpulan

Lawatan Hayam Wuruk pada 1359 M meninggalkan jejak penting dalam sejarah kawasan yang sekarang menjadi Probolinggo Raya. Nama-nama seperti Banger, Baremi, Borang, Pajarakan, Sagara, Gending, Tongas, Bermi, Sajabung, Keboncandi, Buluh, Gedhe, Arya, dan Pabayeman muncul dalam sumber atau kajian yang menghubungkan perjalanan tersebut dengan wilayah Probolinggo. (Sigarda Indonesia)

Yang paling kuat dalam identitas sejarah modern Probolinggo adalah Banger, yang oleh Pemerintah Kota Probolinggo ditempatkan sebagai nama lama wilayah Kota Probolinggo pada masa Hayam Wuruk. (BPBD Probolinggo Kota)

Dengan demikian, perjalanan Hayam Wuruk dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ensiklopedia sejarah Probolinggo Raya yang bersifat evergreen: bukan sekadar menceritakan perjalanan seorang raja, tetapi mendokumentasikan nama tempat, lanskap, masyarakat, keagamaan, dan perkembangan wilayah Jawa Timur pada abad ke-14.

Dari Banger hingga Pajarakan, dari Sagara hingga Gending, jejak perjalanan Hayam Wuruk menjadi salah satu pintu untuk membaca kembali sejarah Probolinggo Raya pada masa Majapahit.

 


Eksplorasi konten lain dari PT Probolinggo Digital Pratama (Perseroan Perorangan)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Post Disclaimer

Informasi yang terdapat dalam situs web ini hanya untuk tujuan informasi umum. Informasi disediakan oleh PT Probolinggo Digital Pratama (Perseroan Perorangan) dengan judul Lawatan Hayam Wuruk ke Wilayah Probolinggo dan meskipun kami berupaya menjaga agar informasi tetap mutakhir dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan apa pun, baik tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan sehubungan dengan situs web maupun informasi, produk, layanan, atau grafik terkait yang terdapat di dalamnya untuk tujuan apa pun.

Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi di situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan, termasuk namun tidak terbatas pada kerugian tidak langsung atau konsekuensial, yang timbul dari penggunaan situs web ini.

Waspada terhadap informasi penipuan yang mengatasnamakan PT Probolinggo Digital Pratama.

Alamat resmi perusahaan: Jl. Raya Bundaran Glaser (Gladak Serang), Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.


Tamael154

Prayoga Saktian Pratama Prameres, atau Tamael, lahir di Probolinggo pada 1 Oktober 1989. Lulusan SMA Negeri 1 Bululawang jurusan IPS ini dikenal sebagai profesional di bidang programming, web development, digital marketing. Ia menguasai keahlian seperti UI/UX Design, WordPress, SEO, AI, dan system analysis, dengan minat besar pada digital dan bisnis online. Mengusung konsep Digital First, Tamael mendirikan PT Probolinggo Digital Pratama serta membangun ekosistem 101 Probolinggo Digital Raya. Fokusnya adalah mengembangkan knowledge hub, digital ecosystem, dan local identity, sehingga digitalisasi dapat menjadi pilar penguatan identitas daerah sekaligus membuka peluang usaha baru. ๐Ÿ‘‰ Ringkasnya, Tamael adalah sosok arsitek programmer yang menjembatani teknologi dengan budaya lokal Probolinggo melalui inovasi digital sudah berusia tua kata kebanyakan orang dan pada dasarnya sudah tua bukan usia muda terbukti di dunia kerja di batasi di bawah 35 tahun. Anjing expaired............ tu si bos enaknya di laporkan ke Kemenaker biar di sanksi mutlak. Semoga cepat gulung tikar......

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Minak Tamael (Rest area 54)
Kirim melalui WhatsApp