Mendengarkan isi artikel

Karesidenan Probolinggo Melebur dengan Karesidenan Malang: Sejarah Malang Raya dan Sebagian Tapal Kuda

Sebagian Tapal Kuda yaitu Karesidenan Probolinggo memiliki perjalanan administratif yang erat dengan Pasuruan dan Malang. Pada masa Hindia Belanda, struktur karesidenan mengalami beberapa kali perubahan. Salah satu perubahan terbesar terjadi ketika Karesidenan Pasuruan dan Karesidenan Probolinggo akhirnya disatukan menjadi Karesidenan Malang dengan pusat pemerintahan di Kota Malang.

Sejarah Malang Raya Dan Sebagian Tapal Kuda

Sejarah Malang Raya Dan Sebagian Tapal Kuda

Perubahan ini menarik karena wilayah historis Karesidenan Malang ternyata jauh lebih luas daripada Malang Raya yang dikenal sekarang.

Wilayah tersebut mencakup Malang Raya sekaligus sebagian kawasan yang secara geografis dan budaya sering dikaitkan dengan Tapal Kuda, termasuk Pasuruan Raya, Probolinggo Raya, dan Lumajang. Wikipedia mencatat delapan wilayah yang kini berada dalam cakupan historis eks-Karesidenan Malang: Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang. (Wikipedia)

Apa Itu Karesidenan Malang?

Karesidenan merupakan struktur administratif yang digunakan pemerintah kolonial untuk mengelola beberapa wilayah kabupaten.

Dalam struktur tersebut terdapat seorang residen sebagai pejabat pemerintahan kolonial yang membawahi wilayah karesidenan.

Karesidenan Malang merupakan salah satu karesidenan yang berkembang pada periode akhir pemerintahan Hindia Belanda.

Penelitian sejarah Universitas Negeri Malang menjelaskan bahwa perubahan pusat pemerintahan dari Pasuruan menuju Malang berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan sosial Kota Malang. Sejak 1 Juli 1928, Malang berkembang dengan pesat dari sisi infrastruktur dan jumlah penduduk, sementara krisis ekonomi mendorong pemerintah kolonial melakukan penghematan dan penggabungan wilayah administratif. (UM Repository)

Probolinggo dalam Sejarah Karesidenan

Sebelum masuk dalam struktur Karesidenan Malang, Probolinggo memiliki perjalanan administratifnya sendiri.

Pada periode tertentu, Karesidenan Probolinggo berdiri sebagai wilayah administratif tersendiri.

Kemudian terjadi perubahan struktur pemerintahan yang menyebabkan Probolinggo masuk dalam lingkungan administratif Pasuruan.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa batas administrasi pada masa kolonial tidak selalu sama dengan batas Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo sekarang.

Karena itu, sejarah Probolinggo harus dibaca berdasarkan periode dan struktur pemerintahan pada saat itu.

Probolinggo Masuk dalam Karesidenan Pasuruan

Salah satu fase penting terjadi ketika Karesidenan Probolinggo masuk dalam struktur Karesidenan Pasuruan.

Pada periode tersebut, wilayah administratif yang berkaitan dengan Probolinggo mencakup kawasan Probolinggo, Kraksaan, dan Lumajang.

Karesidenan Pasuruan kemudian memiliki cakupan yang luas.

Secara sederhana, struktur tersebut dapat digambarkan:

Pasuruan

Bangil

Malang

Probolinggo

Kraksaan

Lumajang

Enam wilayah tersebut berada dalam satu jaringan pemerintahan Karesidenan Pasuruan pada periode tertentu.

Radar Bromo mencatat bahwa reorganisasi kemudian menghapus Karesidenan Probolinggo dan menggabungkan struktur tersebut dengan Karesidenan Malang. (Radar Bromo)

Mengapa Malang Menjadi Pusat?

Perubahan pusat pemerintahan tidak terjadi secara tiba-tiba.

Pada awal abad ke-20, Kota Malang mengalami perkembangan pesat.

Pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, perkebunan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi menjadikan Malang semakin penting.

Penelitian Universitas Negeri Malang menyimpulkan bahwa perubahan pusat pemerintahan dari Pasuruan menuju Malang berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan sosial Malang. Krisis ekonomi juga mendorong pemerintah kolonial melakukan efisiensi melalui penggabungan karesidenan. (UM Repository)

Dengan demikian, Malang tidak hanya berkembang sebagai kota, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan regional.

Tahun 1931 dan Penggabungan Karesidenan

Tahun 1931 menjadi salah satu titik penting dalam sejarah administrasi kawasan ini.

Menurut sumber sejarah yang dikutip Radar Bromo, pada tahun tersebut Karesidenan Pasuruan dan Karesidenan Probolinggo dihapus dan disatukan menjadi Karesidenan Malang yang berpusat di Kota Malang. (Radar Bromo)

Perubahan tersebut dapat diringkas:

Karesidenan Probolinggo

โ†“

Karesidenan Pasuruan

โ†“

Reorganisasi pemerintahan

โ†“

Karesidenan Pasuruan + Karesidenan Probolinggo

โ†“

Karesidenan Malang

โ†“

Malang sebagai pusat pemerintahan

Ini merupakan proses administratif, bukan berarti wilayah Probolinggo secara geografis menjadi bagian dari Kota Malang.

Malang Raya dan Sebagian Tapal Kuda

Di sinilah sejarah Karesidenan Malang menjadi menarik.

Istilah Malang Raya pada masa sekarang biasanya digunakan untuk kawasan:

  • Kota Malang
  • Kabupaten Malang
  • Kota Batu

Namun Karesidenan Malang secara historis mempunyai wilayah yang jauh lebih luas.

Wikipedia mencatat bahwa bekas Karesidenan Malang mencakup:

  1. Kota Batu
  2. Kota Malang
  3. Kabupaten Malang
  4. Kota Pasuruan
  5. Kabupaten Pasuruan
  6. Kota Probolinggo
  7. Kabupaten Probolinggo
  8. Kabupaten Lumajang. (Wikipedia)

Dengan demikian, kawasan historis Karesidenan Malang dapat dipahami sebagai:

Malang Raya

Pasuruan Raya

Probolinggo Raya

Lumajang

dalam satu struktur administratif kolonial pada periode tertentu.

Malang Raya Tidak Sama dengan Karesidenan Malang

Perbedaan ini sangat penting.

Malang Raya adalah istilah kawasan yang digunakan pada masa modern.

Sedangkan Karesidenan Malang adalah struktur pemerintahan kolonial.

Karena itu, keduanya tidak dapat dianggap identik.

Jika seseorang mengatakan:

โ€œKaresidenan Malang adalah Malang Raya.โ€

pernyataan tersebut terlalu sempit.

Yang lebih tepat:

Malang Raya merupakan bagian inti dari wilayah historis Karesidenan Malang.

Karesidenan Malang mencakup wilayah yang lebih luas, termasuk sebagian kawasan Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. (Wikipedia)

Pasuruan Raya dalam Karesidenan Malang

Pasuruan mempunyai hubungan sejarah yang sangat kuat dengan perubahan tersebut.

Sebelum Malang menjadi pusat pemerintahan karesidenan, Pasuruan merupakan pusat Karesidenan Pasuruan.

Pasuruan kemudian kehilangan kedudukannya sebagai pusat karesidenan ketika struktur pemerintahan regional dipusatkan di Malang.

Namun Pasuruan tidak kehilangan kedudukannya sebagai wilayah pemerintahan.

Kota dan Kabupaten Pasuruan tetap berkembang sebagai wilayah tersendiri.

Dalam sejarah eks-Karesidenan Malang, keduanya kemudian menjadi bagian dari wilayah historis yang sama dengan Malang dan Probolinggo. (Wikipedia)

Probolinggo Raya dalam Karesidenan Malang

Hal yang sama berlaku untuk Probolinggo.

Probolinggo Raya sekarang terdiri atas:

Kota Probolinggo

dan

Kabupaten Probolinggo.

Namun dalam sejarah kolonial, wilayah Probolinggo pernah mengalami beberapa perubahan struktur administratif.

Probolinggo pernah memiliki kedudukan sebagai karesidenan.

Kemudian masuk dalam struktur Pasuruan.

Selanjutnya Karesidenan Probolinggo dihapus dan wilayahnya masuk dalam Karesidenan Malang.

Dengan demikian, jalur sejarah administratifnya dapat diringkas:

Probolinggo

โ†’ Karesidenan Probolinggo

โ†’ Karesidenan Pasuruan

โ†’ Karesidenan Malang

โ†’ Pemerintahan Indonesia

โ†’ Kota Probolinggo + Kabupaten Probolinggo

Lumajang sebagai Penghubung Historis

Lumajang juga memiliki posisi penting dalam sejarah ini.

Dalam daftar wilayah eks-Karesidenan Malang, Kabupaten Lumajang termasuk salah satu wilayah yang sekarang berada dalam cakupan historis karesidenan tersebut. (Wikipedia)

Posisi Lumajang memperlihatkan bahwa pengaruh administratif Karesidenan Malang tidak berhenti di kawasan Malang dan Pasuruan.

Wilayah tersebut menjangkau lebih jauh ke arah timur hingga kawasan yang secara geografis dan historis sering dikaitkan dengan Tapal Kuda.

Apa yang Dimaksud Sebagian Tapal Kuda?

Istilah Tapal Kuda digunakan untuk menyebut kawasan Jawa Timur bagian timur yang mempunyai karakter sejarah, budaya, dan sosial tersendiri.

Batas Tapal Kuda dapat berbeda tergantung konteks penggunaannya.

Dalam pembahasan Karesidenan Malang, istilah sebagian Tapal Kuda dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang kini dianggap bagian dari kawasan timur Jawa Timurโ€”khususnya Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajangโ€”pernah berada dalam satu struktur administratif dengan Malang.

Karena itu, Karesidenan Malang secara historis menjadi jembatan antara Malang Raya dan sebagian kawasan Tapal Kuda.

Jaringan Malangโ€“Pasuruanโ€“Probolinggo

Perubahan administratif tersebut menciptakan jaringan regional yang menarik.

Secara historis:

Malang

โ†” Pasuruan

โ†” Probolinggo

โ†” Lumajang

Keempat kawasan memiliki karakter geografis yang berbeda.

Malang berada di kawasan pedalaman dan pegunungan.

Pasuruan berada pada jalur pesisir utara sekaligus memiliki kawasan pegunungan.

Probolinggo berada di pesisir utara Jawa Timur dan memiliki hubungan kuat dengan kawasan Bromoโ€“Tengger.

Lumajang berada di sisi selatan-timur dengan karakter agraris dan pegunungan.

Dalam satu struktur karesidenan, wilayah-wilayah tersebut membentuk jaringan pemerintahan regional yang luas.

Krisis Ekonomi dan Reorganisasi Pemerintahan

Penggabungan karesidenan juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi dunia pada akhir 1920-an dan awal 1930-an.

Krisis ekonomi atau Great Depression memberikan tekanan terhadap keuangan pemerintahan kolonial.

Pemerintah melakukan berbagai langkah penghematan.

Penelitian Universitas Negeri Malang mencatat bahwa krisis ekonomi menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah kolonial menggabungkan karesidenan untuk mengurangi beban anggaran. (UM Repository)

Dengan demikian, reorganisasi bukan hanya persoalan geografis.

Ada faktor:

  • ekonomi;
  • administrasi;
  • kependudukan;
  • infrastruktur;
  • dan perkembangan kota.

Dari Enam Wilayah Menjadi Karesidenan Malang

Sebelum reorganisasi, Karesidenan Pasuruan pernah memiliki struktur yang luas.

Kemudian perubahan administrasi menghasilkan struktur baru dengan Malang sebagai pusat.

Secara konseptual:

Pasuruan

Bangil

Malang

Probolinggo

Kraksaan

Lumajang

โ†“

Reorganisasi

โ†“

Karesidenan Malang

โ†“

Pusat pemerintahan: Kota Malang

Perubahan ini merupakan salah satu fase penting dalam pembentukan jaringan administratif Jawa Timur bagian timur.

Jejak Karesidenan Malang Sampai Sekarang

Walaupun sistem karesidenan tidak lagi digunakan sebagai struktur pemerintahan daerah seperti pada masa kolonial, konsep eks-Karesidenan Malang masih dapat dikenali dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu jejak yang paling mudah dilihat adalah kode TNKB huruf N.

Wikipedia mencatat bahwa wilayah eks-Karesidenan Malang menggunakan kode kendaraan N, mencakup Malang, Batu, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. (Wikipedia)

Artinya, kendaraan berpelat N tidak selalu berasal dari Malang.

Pelat N juga dapat berasal dari:

Batu

Pasuruan

Probolinggo

Lumajang

serta Kabupaten Malang.

Hal ini menjadi salah satu jejak administratif historis yang masih dikenal masyarakat sampai sekarang.

Bukan Berarti Probolinggo Menjadi Malang

Penting untuk memahami bahwa penggabungan karesidenan tidak membuat Probolinggo menjadi bagian dari Kota Malang.

Yang bergabung adalah struktur administrasi karesidenan.

Probolinggo tetap merupakan wilayah tersendiri.

Demikian pula Pasuruan dan Lumajang.

Malang berfungsi sebagai pusat pemerintahan karesidenan, bukan sebagai pengganti identitas wilayah lain.

Perbedaan ini penting untuk menghindari kesalahpahaman ketika membaca sejarah administrasi kolonial.

Dari Karesidenan Menuju Kabupaten dan Kota Modern

Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintahan mengalami perubahan.

Karesidenan tidak lagi menjadi bentuk utama pembagian pemerintahan daerah seperti pada masa kolonial.

Wilayah yang dahulu berada dalam satu karesidenan kemudian berkembang menjadi beberapa pemerintahan daerah.

Saat ini kita mengenal:

Malang Raya

Kota Malang

Kabupaten Malang

Kota Batu

Pasuruan Raya

Kota Pasuruan

Kabupaten Pasuruan

Probolinggo Raya

Kota Probolinggo

Kabupaten Probolinggo

Wilayah Timur

Kabupaten Lumajang

Pembagian tersebut berbeda dengan struktur Karesidenan Malang pada masa Hindia Belanda.

Sejarah yang Menghubungkan, Bukan Menyamakan

Sejarah Karesidenan Malang menunjukkan adanya hubungan administratif yang pernah menyatukan wilayah-wilayah tersebut.

Namun hubungan sejarah tidak berarti semua wilayah memiliki identitas yang sama.

Malang tetap Malang.

Pasuruan tetap Pasuruan.

Probolinggo tetap Probolinggo.

Lumajang tetap Lumajang.

Yang sama adalah bahwa pada periode tertentu wilayah-wilayah tersebut pernah berada dalam satu struktur pemerintahan regional.

Justru perbedaan karakter masing-masing daerah menjadi bagian penting dari sejarah Jawa Timur.

Kronologi Singkat

Perjalanan administratif tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

Banger dan perkembangan Probolinggo

โ†“

Karesidenan Probolinggo

โ†“

Probolinggo masuk struktur Karesidenan Pasuruan

โ†“

Perubahan sosial dan ekonomi Malang

โ†“

Malang berkembang menjadi pusat regional

โ†“

Reorganisasi pemerintahan akhir 1920-an

โ†“

Karesidenan Pasuruan dan Probolinggo dihapus

โ†“

Karesidenan Malang berpusat di Kota Malang

โ†“

Malang Raya + Pasuruan + Probolinggo + Lumajang berada dalam satu cakupan historis

โ†“

Kemerdekaan Indonesia

โ†“

Pembentukan pemerintahan daerah modern

Kesimpulan

Karesidenan Probolinggo melebur dengan Karesidenan Malang merupakan bagian dari proses reorganisasi administratif pada akhir masa Hindia Belanda.

Menurut sumber sejarah yang dikutip Radar Bromo, pada 1931 Karesidenan Pasuruan dan Karesidenan Probolinggo dihapus dan disatukan menjadi Karesidenan Malang yang berpusat di Kota Malang. (Radar Bromo)

Perubahan tersebut menjadikan wilayah historis Karesidenan Malang jauh lebih luas daripada Malang Raya dalam pengertian modern.

Wikipedia mencatat delapan wilayah yang sekarang berada dalam cakupan historis eks-Karesidenan Malang: Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang. (Wikipedia)

Karena itu, secara historis dapat dikatakan bahwa:

Karesidenan Malang menghubungkan Malang Raya dengan sebagian kawasan Tapal Kuda, termasuk Pasuruan Raya, Probolinggo Raya, dan Lumajang.

Namun hubungan tersebut merupakan hubungan administratif historis, bukan berarti kawasan-kawasan tersebut sekarang menjadi satu wilayah pemerintahan.

Bagi sejarah Probolinggo Raya, fase ini sangat penting karena menunjukkan perjalanan:

Probolinggo โ†’ Pasuruan โ†’ Malang โ†’ Indonesia modern.

Jejak sejarah tersebut menjelaskan mengapa Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang memiliki hubungan historis yang kuat meskipun sekarang berada dalam pemerintahan daerah yang berbeda.

Dengan demikian, Malang Raya modern dapat dipahami sebagai pusat dari sebuah kawasan historis yang pernah jauh lebih luas, sementara Probolinggo Raya dan Pasuruan Raya merupakan bagian penting dari jaringan sejarah Karesidenan Malang pada masa kolonial.

Catatan editorial untuk 101Probolinggo: judul โ€œKaresidenan Probolinggo Melebur dengan Karesidenan Malang Rayaโ€ bagus untuk SEO/populer, tetapi secara ensiklopedis saya lebih menyarankan โ€œKaresidenan Probolinggo Melebur ke dalam Karesidenan Malang: Hubungan Malang Raya, Pasuruan Raya, dan Probolinggo Rayaโ€. Ini lebih presisi karena Malang Raya adalah istilah kawasan modern, sedangkan Karesidenan Malang adalah struktur administratif historis. (Wikipedia)

Untuk rujukan utama, Anda dapat menggunakan Wikipedia โ€” Keresidenan Malang dan penelitian sejarah Universitas Negeri Malang tentang penggabungan pusat pemerintahan Karesidenan Pasuruanโ€“Malang. (UM Repository)


Eksplorasi konten lain dari PT Probolinggo Digital Pratama (Perseroan Perorangan)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Post Disclaimer

Informasi yang terdapat dalam situs web ini hanya untuk tujuan informasi umum. Informasi disediakan oleh PT Probolinggo Digital Pratama (Perseroan Perorangan) dengan judul Sejarah Malang Raya dan Sebagian Tapal Kuda dan meskipun kami berupaya menjaga agar informasi tetap mutakhir dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan apa pun, baik tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan sehubungan dengan situs web maupun informasi, produk, layanan, atau grafik terkait yang terdapat di dalamnya untuk tujuan apa pun.

Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi di situs ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan, termasuk namun tidak terbatas pada kerugian tidak langsung atau konsekuensial, yang timbul dari penggunaan situs web ini.

Waspada terhadap informasi penipuan yang mengatasnamakan PT Probolinggo Digital Pratama.

Alamat resmi perusahaan: Jl. Raya Bundaran Glaser (Gladak Serang), Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.


Tamael154

Prayoga Saktian Pratama Prameres, atau Tamael, lahir di Probolinggo pada 1 Oktober 1989. Lulusan SMA Negeri 1 Bululawang jurusan IPS ini dikenal sebagai profesional di bidang programming, web development, digital marketing. Ia menguasai keahlian seperti UI/UX Design, WordPress, SEO, AI, dan system analysis, dengan minat besar pada digital dan bisnis online. Mengusung konsep Digital First, Tamael mendirikan PT Probolinggo Digital Pratama serta membangun ekosistem 101 Probolinggo Digital Raya. Fokusnya adalah mengembangkan knowledge hub, digital ecosystem, dan local identity, sehingga digitalisasi dapat menjadi pilar penguatan identitas daerah sekaligus membuka peluang usaha baru. ๐Ÿ‘‰ Ringkasnya, Tamael adalah sosok arsitek programmer yang menjembatani teknologi dengan budaya lokal Probolinggo melalui inovasi digital sudah berusia tua kata kebanyakan orang dan pada dasarnya sudah tua bukan usia muda terbukti di dunia kerja di batasi di bawah 35 tahun. Anjing expaired............ tu si bos enaknya di laporkan ke Kemenaker biar di sanksi mutlak. Semoga cepat gulung tikar......

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Minak Tamael (Rest area 54)
Kirim melalui WhatsApp